Perwakilan Roode Brug Soerabaia Turut Ambil Bagian Drama Teatrikal
Reka Ulang “Darah dan Doa – Hijrah dan Long March Pasukan Siliwangi.”
Bandung, Minggu pagi itu (24/8/2025), seolah kembali menjadi panggung sejarah. Dari ruas Dago Cikapayang hingga Balai Kota Bandung, semarak peserta kirab tumpah ruah di sela-sela lalu lintas pagi menyemarakkan peringatan Hari Veteran Nasional 2025. Warga Bandung, tua-muda, berdiri di tepi jalan, menyaksikan kirab yang sarat makna.
Derap langkah para peserta berpadu dengan gemuruh tepuk tangan penonton, sementara ragam kostum pejuang, pasukan, dan rakyat jelata seakan menghadirkan kembali denyut Bandung pada 1946, ketika kota ini rela dibakar demi mempertahankan kemerdekaan. Bukan sekadar arak-arakan, melainkan sebuah napak tilas yang mengajak siapa pun yang hadir untuk menengok kembali api pengorbanan yang menyala dalam sejarah “Bandoeng Lautan Api.”
Mengawali acara peringatan tersebut, para peserta kirab telah berkumpul sejak pukul 06.00 di Dago Cikapayang untuk menunggu pelepasan resmi oleh Ketua DPC LVRI Kota Bandung. Tepat pukul 07.30 kirab dilepas, menempuh rute sepanjang 2.5 kilometer menuju Balai Kota Bandung. Perjalanan arak-arakan yang memakan waktu sekitar 60 menit itu menjadi awal dari rangkaian acara besar yang digelar pada Hari Veteran Nasional 2025.
Sesampainya di Balai Kota Bandung, gedung tua yang pernah dikenal dengan nama Gemeente Huis pada masa kolonial, suasana berubah khidmat. Defile para peserta melewati tenda utama para tamu undangan. Acara berlanjut dengan doa bersama, pembacaan naskah Soekarno, hingga sambutan-sambutan dari Ketua Pelaksana, Ketua LVRI, dan Wakil Wali Kota Bandung, Erwin Affandi, menjadi pengingat betapa panjang jalan perjuangan bangsa.
Balai Kota Bandung, di tempat yang duhulu pernah berdiri gudang kopi (koffie pakhuis) milik Andries de Wilde yang dibangun pada tahun 1819, yang kemudian dirobohkan dan diganti bangunan baru karya arsitek Ir. Eh de Roo pada tahun 1927, jejak sejarah tersebut kini dipadukan dengan denyut kehidupan warga Bandung masa kini.
Menjelang siang, tepat pukul 10.45, suasana yang semula khidmat berubah menjadi meriah. Berbagai penampilan seni tradisional dan modern hadir bergantian: lantunan angklung dari Komunitas PBLB, hentakan tari Jaipong, aksi drama teatrikal, demonstrasi Pencak Silat, , hingga harmoni Paduan Suara PBLB. Rangkaian ini bukan sekadar hiburan, melainkan penegas bahwa kebudayaan adalah salah satu wajah perjuangan bangsa yang terus diwariskan.
Namun dari seluruh penampilan, ada satu yang paling menyedot perhatian, yakni reka ulang drama teatrikal bertajuk “Darah dan Doa – Hijrah dan Long March Pasukan Siliwangi.” Adegan-adegan yang dimainkan seakan membelah waktu, membawa penonton kembali ke malam 19 Desember 1948.
Saat itu Yogyakarta, jantung republik, dibakar api agresi Belanda. Para prajurit dengan lambang harimau di dada menerima perintah rahasia: Siasat Nomor 1, sandi “Aloha”, yang singkat tetapi sarat makna, “Kembali ke Jawa Barat, tanah kelahiranmu.”
Teatrikal tersebut menjadi semakin hidup berkat kerja sama lintas komunitas, Front Bandung Territory 1945 (FBT 45) menjadi kreator dan motor utama, didukung oleh Roode Brug Soerabaia, Reenactor Sukabumi, Reenactor BAVARIA (Bandung Valkyrie Reciment), SMK Kian Santang, SMA Negeri 18, SMA Pasundan, Bintaldam Kodam 3 Siliwangi, dan Museum Kodam 3 Siliwangi.
Turut pula dalam kirab: Marching Band SMAT Krida Nusantara, Paskibra, Veteran Pembela, Veteran PBB, TNI – Polri, FKPPI, FPM, SDN 231 Sukaasih, SMAT Krida Nusantara, KLIBSA, FBT 45, Roode Brug Soerabaia, Reenactor Sukabumi, BAVARIA,dan beberapa tank dari Kodam 3 Siliwangi.
Adapun perwakilah Roode Brug Soerabaia, salah satu komunitas kesejarahan Kota Surabaya tersebut yang turut hadir, di antaranya: R. Yoshi W. Soerjoso (Belanda), Sylvi Mutiara (PMI), Liem Kim Haw (TNI), Hamzah Bahanan (Belanda), Garti Hartiningsih (Laswi), Maghfirotul Laily (Laswi), Baraq Izzat Al Baker (TNI), dan Ali Muchson (Fotografer).
Drama Teatrikal Reka Ulang
“Darah dan Doa – Hijrah dan Long March Pasukan Siliwangi”
Gema proklamasi 17 Agustus 1945 telah menggaung di seluruh penjuru tanah air, yang bernama Indonesia, tak terkecuali bagi masyarakat Jawa Barat, dan utamanya Pasukan Siliwangi. Pada awal kemerdekaan Indonesia telah menandatangani beberapa kali perjanjian. Di antara perjanjian tersebut, yakni perundingan di atas kapal USS Renville, yang mengakibatkan pasukan Divisi Siliwangi harus hijrah ke Yogyakarta.
Akibat perjanjian tersebut, wilayah Republik Indonesia semakin sempit. Anggota TNI yang berada di kantong Belanda juga harus ditarik masuk wilayah Indonesia. Dari Jawa Barat setidaknya ada sekitar 35.000 tentara. Divisi Siliwangi tanggal 1 Februari 1948 turut dihijrahkan menuju wilayah Republik Indonesia, ke Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Namun situasi jadi berubah, pada malam 19 Desember 1948, Yogyakarta dibakar api agresi Belanda. Para pemimpin republik ditangkap, udara dipenuhi asap mesiu, dan kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan tiba-tiba lumpuh. Di tengah kekacauan itu, Divisi Siliwangi menerima perintah pulang ke tanah Sunda, seperti dikutip dari koransulindo.com/long-march-siliwangi-perjalanan-panjang-menuju-pulang/
Saat meninggalkan Jawa Barat bukanlah keputusan mudah. Mereka menyeberangi sungai, menembus daratan, hingga akhirnya tiba di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selama masa penugasan itu, pasukan harimau ikut meredam gejolak, termasuk ketika Madiun Affair pecah pada September 1948. Namun, kerinduan pada tanah kelahiran selalu terpendam di dada.
Kini, perintah Siasat Nomor 1, sandi “Aloha”, yang isinya singkat, “Kembali ke Jawa Barat, Tanah Kelahiranmu.” seakan hadiah istimewa, menjadi restu untuk kembali pulang. Namun, jalan pulang begitu panjang yang dilalui pasukan beserta keluarga itu bukanlah jalan yang aman, melainkan jalan penuh darah, air mata, dan pengkhianatan.
Bagi mereka, ini bukan sekadar instruksi militer, melainkan panggilan hati, kerinduan untuk kembali ke kampung halaman, yakni Tanah Sunda. Hal itu, setelah kurang lebih dua tahun meninggalkannya lantaran harus menjalani keputusan hasil perundingan di atas kapal USS Renville. Pasukan Siliwangi beserta keluarganya harus hijrah ke Yogyakarta.
Dengan komando Letnan Kolonel Daan Yahya, pasukan bergerak dalam tiga brigade. Kusno Utomo memimpin barisan menuju Bandung, Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Sadikin mengarahkan pasukan ke Jawa Barat bagian utara, sementara Samsu menuju Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya.
Mereka berjalan malam hari, bersembunyi di siang hari, menembus hutan, lembah, sungai, dan hujan di bulan Desember, musim penghujan, yang tak kenal henti. Kelaparan, serangan Belanda, hingga gangguan dari pasukan DI/TII menjadi cobaan yang nyaris tak ada habisnya.
Namun, perjalanan panjang sekitar 600 kilometer itu bukan hanya kisah militer. Ia adalah kisah heroik kemanusiaan, prajurit yang berjalan bersama istri dan anak, berbagi seadanya seperti singkong rebus, dan makanan seadanya lainnya, berdoa sambil menggendong bayi, dan tetap melangkah meski tubuh letih didera kelehan fisik dan mental.
Hijrah dan Long March Pasukan Siliwangi tersebut telah diabadikan oleh Usmar Ismail dalam film besutannya yang berjudul “Darah dan Doa” (1950), menjadikannya monumen sinema atas pengorbanan Pasukan “Maung” Siliwangi.
Pada awal 1949, mereka tiba kembali di Jawa Barat. Pakaian lusuh, tubuh lelah, banyak rekan dan keluarga gugur, namun kepala tetap tegak. Long March Pasukan Siliwangi menjadi bukti bahwa semangat bangsa ini tidak pernah padam oleh agresi, pengkhianatan, atau derita. Seperti harimau yang selalu kembali ke rimba, mereka pulang dengan hati teguh.
Reka ulang teatrikal dalam peringatan Hari Veteran Nasional 2025 ini bukan sekadar hiburan bertema sejarah. Ia adalah cermin bagi generasi kini, bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini telah dibayar mahal oleh para pejuang dengan darah, doa, keluarga, harta, dan nyawa yang dikorbankan.
Jika dulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata, maka kini tugas generasi penerus adalah mengisi kemerdekaan dengan karya dan integritas dalam profesi masing-masing.. Dengan begitu, api juang para pendahulu tak pernah padam, melainkan terus menyala, menuntun bangsa ini melangkah ke depan dengan kepala tegak dan hati merdeka.
Sandy Chaky, Ketua FBT 45 yang sekaligur kreator drama teatrikal, mengatakan bahwa “Parade Juang Bandoeng Lautan Api” dalam Peringatan Hari Veteran Nasional 2025 bukan sekadar tontonan, melainkan sarana untuk menghidupkan kembali semangat juang. Ia menegaskan bahwa peristiwa Hijrah dan Long March Divisi Siliwangi adalah bukti keteguhan hati para prajurit yang tak pernah menyerah, meski harus menempuh perjalanan penuh doa, darah, lapar, dan pengkhianatan.
“Lebih dari sekadar pertunjukan sejarah, reka ulang Hijrah dan Long March Divisi Siliwangi juga dihadirkan sebagai sarana edukasi bagi generasi muda. Melalui teatrikal, nilai-nilai perjuangan, keberanian, solidaritas, dan kecintaan pada tanah air dapat ditransmisikan dengan cara yang mengesankan dan mudah diingat, sehingga api semangat juang tetap menyala dalam jiwa anak bangsa,” pungkasnya.
Pada kesempatan yng sama, Puspa, siswa SMA Pahlawan Toha Kelas 10 yang salah satu terlibat acara, mengatakan bahwa ikut turut bangga dapat terlibat di acara besar Parade Juang Bandoeng Lautan Api ini. Menurutnya, keterlibatannya dalam acara ini sebagai pengalaman yang tak terlupakan. Biasanya hanya terlibat di acara-acara sekolah, seperti ke-OSIS-an dan pramuka.
“Sungguh saya senang dan bangga bisa turut terlibat di acara besar ini. Sebagai generasi muda, peristiwa Bandoeng Lautan Api dan Hijrah dan Long March Divisi Siliwangi menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah yang datang begitu saja, melainkan hasil dari perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.
Tugas generasi muda kini adalah menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan belajar sungguh-sungguh, berkarya dengan sepenuh hati, serta menanamkan nilai cinta tanah air dalam setiap langkah kehidupan. Dengan begitu, semangat para pejuang tidak hanya dikenang, tapi benar-benar hidup dalam diri kami untuk membangun Indonesia yang lebih baik, pungkas siswi yang berminat di bidang kepramukaan.
Sementara Sylvi Mutiara, Pembina Roode Brug Soerabaia yang juga sekaligus turut berperan sebagai anggota PMI dalam drama teatrikal, mengatakan bahwa Roode Brug Soerabaia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada DPC LVRI Kota Bandung, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, DPRD Kota Bandung, dan jajaran Forkopim Kota Bandung, serta Reenactor Front Bandung Territory 1945 (FBT 45) atas kesempatan Roode Brug Soerabaia turut berpartisipasi dalam acara Parade Juang Bandoeng Lautan Api dalam peringatan Hari Veteran Nasional 2025.
“Atas nama Roode Brug Soerabaia, saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya atas diberi kesempatan mendukung acara peringatan “Hari Veteran Nasional 2025, Bandung Lautan Api” kepada jajaran panitia, DPC LVRI Bandung, dan jajaran Forkopim Kota Bandung, serta Reenactor Front Bandung Territory 1945 (FBT 45). Lebih-lebih kami pulang ke Surabaya diapresiasi juga dengan membawa serta Piagam dan Piala Juara 2,” pungkas perempuan traveller.
Sekilas tentang “Bandoeng Lautan Api”
Bandoeng Lautan Api tercatat sebagai salah satu peristiwa besar dalam sejarah revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 24 Maret 1946, tentara serta rakyat Indonesia mengambil keputusan berat: mengosongkan sekaligus membakar Kota Bandung agar tidak dapat dipakai sebagai basis militer Sekutu maupun NICA (Belanda).
Langkah pembumihangusan ini dipilih sebagai strategi paling memungkinkan, mengingat kekuatan militer Republik jauh lebih kecil dibandingkan pasukan lawan. Aksi heroik tersebut kemudian diabadikan melalui beragam karya seni, baik dalam bentuk lagu maupun film, supaya kisah pengorbanan para pejuang tetap hidup dalam memori kolektif generasi penerus bangsa.
Awal Mula dan Latar Belakang
Dikutip dari berbagai sumber, seperti dari Sejarawan Djoened Poesponegoro dalam Sejarah Nasional Indonesia VI (2008) menjelaskan, peristiwa ini bermula dari kedatangan tentara Sekutu di Bandung pada 12 Oktober 1945.
Pasukan Sekutu, yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), awalnya datang dengan misi membebaskan tawanan perang Jepang setelah Perang Dunia II berakhir. Namun, secara diam-diam Belanda melalui NICA ikut serta di balik kedatangan mereka, dengan tujuan mengembalikan kekuasaan kolonial.
Hal itulah yang memicu perlawanan keras dari rakyat serta tentara Indonesia. Sedangkan, Mohamad Ully Purwasatria dalam penelitiannya (2014) menegaskan bahwa pada mulanya rakyat menerima alasan kedatangan Sekutu, namun ketika NICA ikut berusaha menancapkan pengaruhnya, suasana berubah menjadi konflik terbuka.
Kronologi Peristiwa
Sesudah mendarat di Indonesia, Sekutu melancarkan propaganda agar rakyat menyerahkan senjata. Peringatan tersebut diabaikan oleh Indonesia. Justru pada malam 24 November 1945, pasukan Republik melakukan serangan ke markas Sekutu di Bandung Utara, termasuk ke Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.
Tiga hari kemudian, 27 November 1945, Kolonel MacDonald sebagai panglima Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum agar warga dan tentara meninggalkan Bandung Utara sebelum 29 November pukul 12.00. Ancaman tersebut tetap tidak dipenuhi sehingga pecah pertempuran di sejumlah titik.
Memasuki Maret 1946, tekanan semakin kuat. Pada 17 Maret, Panglima Tertinggi AFNEI, Letnan Jenderal Montagu Stopford, memberi peringatan kepada Perdana Menteri Indonesia Soetan Sjahrir agar pasukan Republik mundur dari Bandung Selatan sejauh 11 km dari pusat kota. Hanya penduduk sipil dan aparat polisi yang boleh tinggal.
Sjahrir pun menginstruksikan Panglima Komandemen Jawa Barat, Mayor Jenderal Didi Kartasasmita, dan Kolonel A.H. Nasution untuk mematuhi tuntutan itu. Menurut kesaksian Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid III: Diplomasi Sambil Bertempur (1977), ia akhirnya memutuskan mengambil jalan tengah: warga dievakuasi, sementara kota dibumihanguskan.
Siang 24 Maret 1946, TRI mengeluarkan empat perintah, salah satunya membakar seluruh bangunan di Bandung. Menjelang sore, gelombang pengungsian berlangsung besar-besaran, terutama dari wilayah selatan rel kereta api ke arah selatan.
Rencana awal pembakaran total dilakukan pada tengah malam, lantaran pukul 20.00 ledakan pertama terjadi di Gedung Indische Restaurant. Setelah itu, pasukan Republik meneruskan aksi peledakan dan pembakaran hingga malam hari. Bandung pun berubah menjadi lautan api, itulah asal mula sebutan Bandung Lautan Api.
Peristiwa Bandoeng Lautan Api menunjukkan bahwa rakyat Indonesia tidak sudi menyerahkan kedaulatan begitu saja. Meski ultimatum Sekutu dipenuhi dengan mengosongkan kota, bangsa ini memilih mengorbankan rumah dan harta demi harga diri serta mempertahankan kemerdekaan.
Tidak diketahui pasti berapa warga yang saat itu terdampak peristiwa Bandoeng Lautan Api. Baik sumber lokal maupun sejarawan Amerika Serikat dan Inggris, memperkirakan sekitar 200.000 hingga 500.000 warga harus mengungsi dan separuh kota Bandung luluh lantak terbakar.
Peristiwa tersebut mengilhami diciptakannya lagu berjudul Halo, Halo Bandung, yang siapa nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan. Lagu tersebut menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.
Sebagai penghormatan atas perjuangan para pahlawan, dibangun Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegallega. Baik lagu Halo, Halo Bandung dan Monumen Bandoeng Lautan Api, keduanya bertujuan untuk menggugah memori kolektif masyarakat, khususnya kaum muda, akan peristiwa heroik yang telah terkubur waktu selama 79 tahun demi mempertahankan kemerdekaan.
Sekilas tentang Lagu Halo, Halo Bandung
Dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Halo,_Halo_Bandung# bahwa “Halo, Halo Bandung” adalah salah satu lagu perjuangan Indonesia ciptaan Ismail Marzuki yang menggambarkan semangat perjuangan rakyat kota Bandung dalam masa pasca-kemerdekaan pada tahun 1946, khususnya dalam peristiwa Bandoeng Lautan Api yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946
Ismail Marzuki tampil bersama grup keroncong Lief Java pada sekitar tahun 1940 sebagai penyanyi dan penulis lagu di Studio Orkes NIROM II di Tegalega, Bandung, sebagai bagian dari siaran radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio-omroepmaatschappij). Ismail Marzuki kembali ke kota Batavia setelah menikahi rekan sesama penyanyi di grup, Eulis Zuraidah.
Namun, kenangan indah Ismail Marzuki selama menetap di Kota Bandung selalu melekat dalam ingatannya. Hal tersebut yang mendorongnya untuk menciptakan lagu berbahasa sunda berjudul “Hallo Bandung”, serta beberapa lagu bertema serupa seperti “Bandung Selatan di Waktu Malam” dan “Saputangan dari Bandung Selatan”.
Lirik Lagu Versi Sunda
Halo, halo Bandung, ibu kota Periangan.
Halo, halo Bandung, kota inget-ingetan.
Atos lami abdi patebih, henteu patingal.
Mugi mugi ayeuna tiasa tepang deui.
‘tos tepang ‘teu panasaran.
Lirik Lagu Versi Asli
Halo, halo Bandung, ibu kota Pasundan.
Hallo-hallo Bandung, kota kenang-kenangan.
Lama sudah beta ingin berjumpa padamu.
S’lagi hayat dan hasrat masih dikandung badan.
Kita ‘kan jumpa pula.
Lirik Lagu Versi Perjuangan
Halo, halo Bandung, ibu kota Periangan.
Halo, halo Bandung, kota kenang-kenangan.
Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau.
Sekarang telah menjadi lautan api.
Mari bung rebut kembali.
Tokoh-Tokoh Penting
Peristiwa Bandung Lautan Api melibatkan banyak pejuang. Beberapa tokoh yang tercatat antara lain:
Soetan Sjahrir
Perdana Menteri Indonesia kala itu yang mengambil langkah diplomatis dengan memerintahkan TRI mundur secara taktis.
Kolonel A.H. Nasution
Panglima Divisi III yang mengeluarkan instruksi evakuasi warga dan pembakaran Bandung pada 24 Maret 1946.
Mohammad Toha
Pejuang muda yang memimpin operasi penghancuran gudang senjata Sekutu, hingga akhirnya gugur dalam tugasnya.
Atje Bastaman
Wartawan muda yang menuliskan laporan peristiwa ini untuk surat kabar Suara Merdeka.
Didi Kartasasmita
Panglima Komandemen Jawa Barat yang berperan dalam proses negosiasi, sekaligus penghubung instruksi dari pemerintah pusat.
Mohammad Endang Karmas
Pejuang yang terkenal dengan aksinya merobek bendera Belanda dalam momen penting Bandung Lautan Api.
Biarkan Foto Bicara
“Kirab Bandung Lautan Api 1946” dalam Peringatan Hari Veteran Nasional 2025














































































Drama Teatrikal “Darah dan Doa – Hijrah dan Long March Pasukan Siliwangi”

































































































































































Apresiasi untuk Roode Brug Soerabaia & Serba-Serbi














