Ternyata perjalanan yang paling jauh yang pernah kita tempuh selama ini bukan perjalanan di lintasan geografis, bukan pula di rentang jarak antarkota atau antarnegara, melainkan perjalanan pulang dari pikiran menuju hati sanubari dalam diri sendiri.
Ia tak membutuhkan google maps, tak bisa diukur oleh kilometer, dan tak pernah selesai hanya dengan satu kali keberangkatan. Perjalanan ini berlangsung perlahan, kadang melelahkan, dan kerap kali penuh perlawanan batin, sebab yang dilalui bukan jalan tol, melainkan lorong-lorong kesadaran.
Pikiran terbiasa berlari. Ia sibuk menimbang, membandingkan, bahkan menghakimi. Pikiran ingin segalanya serba cepat dan pasti. Namun hati bekerja dengan cara yang berbeda. Ia perlu jeda, menolak tergesa-gesa, membutuhkan keheningan, dan menuntut kejujuran yang paling dalam.
Maka ketika seseorang memutuskan menempuh perjalanan ke dalam dirinya sendiri, yang kali pertama mesti diruntuhkan adalah tembok keangkuhan: merasa paling benar, paling tahu, dan paling layak mendapatkan segalanya sesuai kehendaknya. Tembok ini yang kerap menghalangi cahaya masuk ke ruang batin.
Perjalanan ini pada hakikatnya adalah proses menurunkan ego. Sikap yang selama ini berdiri tegak, mengatur arah hidup dengan tuntutan dan ambisi, perlahan perlu diturunkan, bahkan ditelentangkan serendah-rendahnya. Tak mudah memang, sebab ego sering menyamar sebagai harga diri, bahkan keyakinan yang seolah tak boleh digugat.
Padahal, menurunkan ego bukan berarti merendahkan martabat diri. Ia justru upaya menempatkan diri secara proporsional. Sebagai manusia yang berusaha sepenuh daya, namun tetap terbatas. Sebagai pribadi yang tak pernah berjalan sendirian, selalu ada penyertaan orang lain, dan lebih-lebih penyertaan Allah dalam setiap langkah.
Di titik inilah kerendahan hati menjadi bekal utama. Merendahkan hati bukan tentang merasa kecil atau tak berarti, melainkan kesediaan mengakui bahwa ada kehendak yang lebih besar daripada sekadar rencana manusia. Sebuah kesadaran bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam genggaman kita.
Bahwa tak semua yang diinginkan harus tercapai, dan tak semua yang terjadi harus segera dipahami. Ada momen yang meminta waktu untuk direnungkan hikmahnya. Kerendahan hati membuat seseorang lebih lentur dalam menyikapi kenyataan, lebih berkompromi, dan perlahan menumbuhkan empati, baik kepada orang lain, maupun kepada diri sendiri.
Perjalanan pulang ke dalam hati juga menuntut pintu ruang ikhlas terbuka. Ikhlas di sini bukan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan penerimaan yang lahir setelah ikhtiar dilakukan sepenuh daya. Di ruang inilah qadha dan qadar-NYA turut mengukir garis kehidupan, mengajarkan bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana.
Yang pasti, perjalanan hidup tak pernah lepas dari hukum alam, yakni ada pasang dan surut sebagai bagian dari skenario kehidupan yang menyimpan pelajaran. Ikhlas menjadikan luka tak lagi sekadar perih, melainkan pintu menuju kedewasaan batin, tempat seseorang belajar berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan harapan.
Ada satu kunci yang kerap kali diremehkan, yakni bersyukur. Padahal, ia adalah cahaya penuntun di lorong-lorong gelap kehidupan. Syukur mengajarkan kita melihat apa yang masih ada, bukan mengejar yang di luar jangkauan, maupun meratapi apa yang telah hilang. Dengan syukur, hati dilatih untuk lebih tenang, pikiran dilunakkan, dan jiwa diteguhkan.
Pada akhirnya, perjalanan dari pikiran ke hati adalah perjalanan pulang. Yakni, pulang kepada hati sanubari yang lebih jujur, lebih lapang, dan lebih damai. Tak ada tepuk tangan di garis akhirnya, tak pula ada medali yang dikalungkan.
Namun impact-nya nyata, yakni ketenangan yang tak bergantung pada keadaan, sikap bijak untuk menerima hidup apa adanya, serta tumbuhnya kekuatan untuk terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik, yang dimampukan untuk turut turun tangan menebar kebaikan, meski tampaknya hanya dalam diam. (Ali Muchson)
Featured image: Gemini.Google
