Resolusi Roode Brug Soerabaia 2026: “Dari Ingatan Menuju Gerakan”

  • EDUKASI
Resolusi Roode Brug Soerabaia 2026: “Dari Ingatan Menuju Gerakan”
Share this :

Selamat Tahun Baru 2026
“Mari terus menjaga api ingatan, agar kota ini tak pernah lupa dari mana ia berasal,
dan ke mana ia ingin menuju
.”

Tahun baru selalu datang membawa jeda. Ia memberi ruang untuk menoleh ke belakang, sekaligus keberanian untuk menatap ke depan. Di Surabaya, kota yang sejarahnya ditempa oleh keberanian, pengorbanan, dan gaung suara yang tak pernah benar-benar senyap, pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka, melainkan momen memperbarui ingatan dan komitmen.

Mengawali 2026, Komunitas Roode Brug Soerabaia mengucapkan “Selamat Tahun Baru 2026” kepada segenap warga kota. Ucapan itu bukan sekadar formalitas, melainkan penanda tekad untuk terus berjalan bersama sejarah, bukan sebagai trauma masa lalu, namun sebagai sumber semangat moralitas dan kultural bagi masa kini dan masa depan.

Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia, meneguhkan komitmennya bahwa Roode Brug Soerabaia untuk terus menghidupkan sejarah “Pertempuran Surabaya 1945” secara membumi dan inklusif. Sejarah, bagi komunitas ini, tidak berhenti sebagai deretan tanggal, arsip, atau pidato resmi. Ia harus hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, mudah dipahami, tidak elitis.

“Pun, relevan dengan pengalaman lintas generasi. Jadi, sejarah menjadi cerita membumi yang bisa dirasakan, bukan sekadar dihafalkan,” teguhnya.

Karena itu, lanjutnya, narasi perjuangan para pahlawan tidak hanya disampaikan melalui forum akademik, namun juga lewat drama teatrikal di ruang publik, diskusi santai di sudut kota, hingga ruang dialog yang akrab dan setara. Dengan cara demikian, sejarah menjadi hidup: ia bernafas di antara sukacita, dialog, dan refleksi bersama.

Di saat yang sama, menurutnya, jangkauan nilai inklusif menjadi nafas penting gerakan ini. Roode Brug Soerabaia membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin terlibat: pelajar, warga kampung, karang taruna, seniman, pegiat komunitas, akademisi, hingga unsur pejabat dan aparat. Tidak ada batas hierarki dalam merawat ingatan kolektif. Semua memiliki hak yang sama untuk belajar, berdiskusi, dan berkontribusi.

“Sikap inklusif ini menunjukkan bahwa sejarah Surabaya bukan milik segelintir orang, melainkan milik bersama. Ia hidup karena dirawat bersama, diapresiasi bersama, dan diwariskan melalui keterlibatan lintas latar belakang. Di situlah sejarah menemukan relevansinya: ketika ia menjadi ruang perjumpaan, bukan sumber sekat,” tambahnya.

Pelestarian makna sejarah perjuangan, tegasnya, memiliki peran krusial dalam membentuk identitas kolektif dan memastikan bahwa nilai-nilai perjuangan tetap relevan bagi generasi mendatang. Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan living memory yang membentuk kesadaran sosial dan budaya. Tanpa upaya pelestarian, nilai-nilai kesejarahan tersebut berisiko tereduksi oleh narasi dominan atau bahkan terlupakan.

Selain itu, sejarah perjuangan berfungsi sebagai mirror of society, ‘memantulkan’ kesalahan dan keberhasilan masa lalu untuk dijadikan pelajaran. Misalnya, studi kasus di Surabaya menunjukkan bahwa memori kolektif tentang peristiwa 10 November 1945 tidak hanya mengingatkan pada heroisme, tetapi juga pada pentingnya solidaritas lintas kelompok, imbuhnya

“Dengan demikian, pelestarian sejarah perjuangan adalah upaya untuk memastikan bahwa pelajaran moral dan sosial dari peristiwa tersebut dapat tetap hidup,” pungkas pemegang Sertifikasi Skema Manajer Panggung dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P-2 Kebudayaan.

Pada kesempatan yang sama, Ady Setyawan, founder Roode Brug Soerabaia, menegaskan bahwa resolusi Roode Brug Soerabaia tahun 2026 pada akhirnya adalah suatu ajakan. Yakni, ajakan untuk mencintai kota ini dengan cara yang lebih ‘waras’. Menjaga Surabaya bukan hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan merawat memori kolektif warganya.

“Menghargai para pahlawan bukan sekadar lewat monumen dan upacara, melainkan dengan menanamkan nilai perjuangan dalam cara kita hidup berdampingan hari ini,” tegasnya.

Di bawah bayang Tugu Pahlawan, di antara lalu lintas kota yang terus bergerak, Roode Brug Soerabaia memilih untuk tetap setia pada satu keyakinan bahwa sejarah yang dirawat dengan membumi dan inklusif akan menumbuhkan rasa memiliki, memperkuat identitas, dan menjaga Surabaya tetap berpijak pada jejak sejarahnya, sekaligus berani melangkah ke depan tanpa kehilangan jati diri, pungkas penulis buku “Tragedi Batavia 1629”.

Sementara Sylvi Mutiara, salah satu Pembina Roode Brug Soerabaia, menggarisbawahi resolusi Roode Brug Soerabaia sebagai upaya merawat kesadaran sejarah secara berkelanjutan. Menurutnya, sejarah akan kehilangan makna jika hanya diingat sesekali, tanpa keterlibatan emosional dan sosial warganya. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjadikan sejarah sebagai bagian dari percakapan sehari-hari, ruang belajar bersama, sekaligus fondasi etis dalam membangun Surabaya yang beradab dan berkesadaran.

“Sejarah seharusnya tidak berhenti sebagai ingatan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran yang menuntun cara kita bersikap dan bertindak sebagai warga kota,” tutur Sylvi Mutiara, perempuan Traveller.

*

Resolusi Roode Brug Soerabaia 2026, pada akhirnya, bukan sekadar slogan pergantian tahun. Ia adalah penegasan sikap bahwa sejarah harus tetap hidup di tengah kota yang terus berubah. Bahwa ingatan atau memori kolektif perlu dirawat dengan kesadaran, bukan diperlakukan sebagai arsip yang beku.

Di tengah arus modernitas, hiruk-pikuk pembangunan, dan derasnya informasi, gerakan komunitas semacam ini menjadi pengingat bahwa kota bukan hanya ruang fisik, melainkan juga ruang makna. Surabaya hidup karena ingatannya, dan ingatan itu bertahan karena ada warga yang dengan setia menjaganya.

Dari ingatan menuju gerakan, itulah jalan yang dipilih Roode Brug Soerabaia. Jalan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, serta menautkan sejarah dengan laku hidup sehari-hari. Sebuah ikhtiar agar memori kolektif warga Surabaya tetap berakar kuat, sekaligus berani melangkah ke depan tanpa tercerabut dari jati dirinya. (Ali Muchson)

Featured image by: Moch. Aziz

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *