Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”

Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Share this :

Ada kalanya sejarah tidak hadir dalam bentuk yang lantang. Ia tidak selalu berwujud peristiwa besar yang tertulis rapi dalam buku atau terarsipkan secara resmi. Sejarah kerap bersembunyi di tempat yang tak terduga. Ia hadir pada detail yang tampak sepele, pada pola yang berulang, bahkan pada sehelai kain batik yang dikenakan sehari-hari.

Batik, dalam hal ini, bukan sekadar karya estetika atau identitas budaya. Ia adalah medium yang menyimpan ingatan: tentang kuasa, tentang perjumpaan, dan tentang jejak-jejak konflik yang pernah melintas dalam kehidupan masyarakat.

Gagasan ini mengemuka dalam diskusi interaktif bertajuk “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”. Dalam forum tersebut, hadir sebagai nara sumber Dr. Aniendya Christianna, M.Med.Kom., Ahli Budaya Visual; Noandha Dhegaska, M.A., Heritage Analyst; dan Ridi Sulaksono, Purnawirawan TNI AU yang juga penggerak Batik Okra Surabaya.

Mereka mengajak peserta untuk membaca ulang batik sebagai arsip visual kolonial, bukan sekadar objek keindahan, melainkan ruang di mana sejarah, ekonomi, dan politik saling bertaut. Diskusi interaktif di selenggarakan atas kerja sama Roode Brug Soerabaia dengan Museum De Javasche Bank, Jalan Garuda 1 Surabaya, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5/2026) pagi.Sabtu (2/5/2026) pagi.

Hadir dalam diskusi sebanyak 85 orang peserta, termasuk di dalamnya Ady Setyawan, Founder Roode Brug Soerabaia; Sylvi Mutiara, Pembina Roode Brug Soerabaia; dan Ariesanti Sukma Wardani, perwakilan Founder Batik Tulis Gajah Mungkur Gresik; serta anggota Roode Brug Soerabaia, siswa SMA Negeri 22 Surabaya, peserta umum dari Surabaya dan berbagai kota dari Jawa Timur.

Aniendya Christianna memulai dengan menjelaskan bagaimana lahirnya Batik Belanda tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekonomi global. Runtuhnya VOC pada akhir abad ke-18 menyebabkan terputusnya pasokan tekstil impor seperti patola dan chintz dari India. Kekosongan pasar ini membuka ruang bagi produksi lokal untuk berkembang.

Di sisi lain, perempuan Eropa dan Indo-Eropa di Hindia Belanda membutuhkan busana yang sesuai dengan iklim tropis, namun tetap mencerminkan standar estetika Barat. Batik menjadi medium yang ideal. Kainnya ringan, nyaman dipakai di iklim tropis, dan teknik pewarnaannya membuat warna lebih tahan lama.

Dari sinilah muncul apa yang dikenal sebagai Batik Belanda, sebuah bentuk adaptasi tekstil lokal yang dimodifikasi untuk memenuhi selera kolonial. Motif buketan yang berkembang pada awal abad ke-20, misalnya, mengadopsi estetika Art Nouveau Eropa: garis lengkung yang luwes, komposisi floral yang naturalistik, serta warna-warna cerah.

Sekilas, motif ini memancarkan keindahan domestik, yakni: feminitas, keanggunan, dan modernitas seperti batik pesisiran Pekalongan dan lain-lain. Namun di balik keindahan itu, ada kepentingan yang bekerja. Batik bukan lagi sekadar kain, melainkan penanda status dan gaya hidup kolonial.

Lapisan makna ini semakin kompleks ketika kita menelusuri motif-motif lain, seperti pala dari Kepulauan Banda. Dalam batik, pala kerap direduksi menjadi ornamen dekoratif yang indah, terlepas dari sejarah panjang monopoli dan kekerasan yang menyertainya pada masa VOC.

Bahkan elemen ekologis seperti burung walor, yang berperan penting dalam penyebaran biji pala, hampir tak mendapatkan tempat dalam narasi visual kolonial. Di titik ini, batik seperti menyederhanakan kenyataan. Ia menghapus konteks, meredam konflik, dan perlahan mengubah sejarah menjadi sekadar hiasan, dan sekadar estetika.

Fenomena ini mencapai bentuk yang lebih subtil ketika motif-motif militer mulai hadir dalam batik pada dekade 1920-an hingga 1930-an. Kapal perang, serdadu, meriam, hingga teknologi transportasi militer tidak ditampilkan secara dramatis atau heroik.

Sebaliknya, simbol-simbol tersebut disajikan dalam bentuk siluet sederhana, diulang dalam pola yang rapi, dan disandingkan dengan ornamen flora dan fauna. Kekerasan tidak ditampilkan secara terang-terangan. Ia “dijinakkan” lewat bentuk yang lebih halus dan dekoratif, maupun melalui stilisasi.

Strategi visual semacam ini bekerja sebagai kamuflase. Ancaman militer tersublimasi menjadi pola dekoratif yang tampak wajar dalam kehidupan sehari-hari. Karena terus diulang, simbol kekuasaan itu terasa akrab. Lama-lama, ia tampak seperti sesuatu yang wajar, bahkan seakan normal.

“Dalam konteks ini, batik tidak hanya merepresentasikan realitas, tetapi juga membentuk persepsi, menghadirkan dominasi sebagai sesuatu yang tak lagi terasa asing,” pungkas dosen Universitas Kristen Petra Surabaya.

Pada kesempatan berikutnya, Noandha Dhegaska memperluas pembacaan ini melalui perspektif dekolonial. Ia menegaskan, batik sebagai warisan budaya, tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa yang melahirkannya. Di satu sisi, batik diakui sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Namun sebagai material culture, ia juga menyimpan jejak negosiasi identitas antara penjajah dan yang dijajah.

Dalam praktiknya, terjadi proses mimikri. Para penjajah mengadopsi batik, menggunakan teknik, pola, dan medium lokal, namun menyisipkan simbol-simbol mereka sendiri. Mereka berusaha tampil “dekat” dengan budaya lokal, tetapi tetap menjaga jarak melalui hierarki kekuasaan. Di sinilah muncul sikap yang serba ganda. Ada ketertarikan, tapi juga kontrol. Ada apresiasi, tapi sekaligus dominasi.

Batik, dengan demikian, menjadi ruang negosiasi budaya. Ia bukan sekadar produk pasif dari kekuasaan kolonial, melainkan arena di mana berbagai kepentingan bertemu dan saling memengaruhi. Masyarakat lokal tetap memiliki peran aktif, baik sebagai pembatik, sebagai produsen makna, maupun sebagai pihak yang menafsirkan ulang simbol-simbol yang hadir.

Dalam kerangka ini, penting untuk membedakan antara kolonialisme dan kolonialitas. Jika kolonialisme merujuk pada praktik penjajahan secara fisik, maka kolonialitas adalah warisan cara berpikir yang terus bertahan bahkan setelah penjajahan berakhir. Ia hidup dalam selera, dalam standar estetika, dan dalam cara kita memaknai warisan budaya.

Tidak mengherankan jika hingga hari ini, motif-motif tertentu dalam Batik Belanda masih dipandang prestisius. Ada daya tarik yang bekerja secara halus. Tanpa sadar, kita bisa mengagumi simbol-simbol kolonial, tanpa benar-benar memahami cerita di baliknya. Di sinilah dekolonisasi menjadi penting, bukan sebagai penolakan, melainkan sebagai upaya untuk memahami secara kritis.

Dekolonisasi, seperti yang ditekankan dalam diskusi ini, sebenarnya berawal dari hal sederhana, yakni kesadaran. Dari keinginan untuk tahu: siapa pembatiknya, bagaimana kondisi kerja mereka, dan apa makna di balik motif yang kita kenakan.

“Bagi institusi seperti museum dan galeri, dekolonisasi berarti menghadirkan narasi yang lebih seimbang, tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga membuka ruang bagi cerita tentang kuasa dan resistensi. Maka melabelinya bukan “Batik Belanda”, lebih kompromis jika dengan menyebut “Batik Indies”, kelakarnya.

Menariknya, semangat ini juga mulai tercermin dalam praktik batik kontemporer. Sejumlah perajin kini mengangkat kembali narasi sejarah dari perspektif lokal, menghadirkan motif yang bercerita tentang perjuangan, tentang perdagangan di keraton, atik Amukti Palapa karya Pak Ridi, Batik Okra Surabaya) hingga peristiwa penting seperti Palagan 10 November.

Sekarang pengrajin batik mulai menciptakan karya-karya serupa dengan narasi perjuangan bangsa, seperti cerita perdagangan di Keraton Surabaya, Sumpah Palapa Patih Gajah Mada, dan Palagan 10 November Surabaya.

“Batik kembali menjadi medium naratif, tetapi dengan sudut pandang yang lebih sadar dan reflektif. Hal ini seperti Batik Amukti Palapa, karya Pak Ridi Sulaksono, seorang purnawirawan TNI AU, yang dikenal dengan Batik Okra Surabaya,” pungkas alumnus National University of Singapore (NUS).

Ridi Sulaksono, penggerak Kampung Batik Okra, menjelaskan dengan menggerakkan warga di wilayahnya untuk membatik bisa membantu menambah pendapatan warga. Ridi melanjutkan, di Kampung Kranggan VII bukan hanya ada batik, tetapi juga ada olahan tanaman okra yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman.

Pada akhirnya, membaca batik adalah membaca lapisan-lapisan yang tak kasatmata. Ia seperti palimpsest, yakni sebuah dokumen yang ditulis, dihapus, lalu ditulis ulang oleh berbagai kepentingan sepanjang waktu. Dalam sehelai kain, kita dapat menemukan keindahan sekaligus ketegangan, harmoni sekaligus konflik.

Maka, merawat batik tidak cukup dengan melestarikan bentuknya. Ia menuntut keberanian untuk memahami maknanya: secara jernih, kritis, dan penuh kesadaran. Sebab di balik setiap motif, selalu ada cerita yang menunggu untuk kita baca ulang. Mungkin, justru dari sana kita dapat melihat sejarah dengan cara yang lebih utuh, sebagai bagian yang terus hidup dalam keseharian kita.

Diskusi interaktif yang dipandu oleh Sylvi Mutiara sebagai moderator, dan Totok Sudarmanto sebagai M.C., sebelum penutupan acara, Founder Tulis Batik Gajah Mungkur Gresik, Akhmad Choiri, yang diwakili Ariesanti Sukma Wardani, istrinya, berkenan memberikan cinderamata kepada para narasumber.

Adapun cinderamata berupa kain batik tulis yang diproduksi oleh Batik Tulis Gajah Mungkur diberikan kepada Aniendya Christianna, Noandha Dhegaska, dan Ridi Sulaksono. Acara berakhir dan ditutup dengan foto bersama seluruh peserta. (Ali Muchson).

Biarkan Foto Bicara
“Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”

Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”
Roode Brug Soerabaia Diskusikan “Arsip Visual Kolonial: Membaca Sejarah Perang lewat Motif Batik”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *