Roode Brug Soerabaia: Kepahlawanan Soegiarto, Persebaya Punya Cerita

Kepahlawanan Soegiarto, Persebaya Punya Cerita
Share this :

Drama Teatrikal Menghidupkan Kembali Semangat Pertempuran Surabaya 1945

Matahari pagi baru saja meninggi di langit Surabaya ketika ratusan pasang mata tertuju ke area pertunjukan di Lapangan Tugu Pahlawan, Minggu (14/6/2026). Di antara rindangnya pepohonan dan megahnya monumen yang menjadi simbol perlawanan rakyat Surabaya, suasana perlahan berubah hening. Teatrikal terlaksana atas kerja sama dengan Disbudporapar Pemkot Surabaya.

Para pengunjung yang datang dari berbagai kalangan: mulai dari para orangtua beserta anak-anaknya, pelajar, komunitas sejarah, hingga masyarakat umum, bersiap menyaksikan sebuah drama teatrikal bertajuk “Pertempuran Surabaya 1945: Kepahlawanan Soegiarto.”

Dentuman musik pengiring dan suara narator yang tegas segera membawa penonton menembus lorong waktu menuju November 1945, masa ketika Surabaya menjadi salah satu medan perjuangan paling menentukan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Pertunjukan ini tak sekadar menghadirkan adegan perang, namun juga mengajak penonton memahami pengorbanan manusia-manusia biasa yang menjelma menjadi pahlawan saat bangsa membutuhkan mereka.

Sebelum drama dimulai, para reenactor terlebih dahulu memasuki area utama Lapangan Tugu Pahlawan. Dengan langkah tegap mereka berbaris di tengah lapangan, kemudian bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai penghormatan kepada para pejuang bangsa.

Setelah memberikan salam hormat kepada para pengunjung, suasana semakin khidmat ketika Garti Haningsih membacakan puisi “Soegiarto Mengganti Sepatu Sepak Bola dengan Senapan” karya Ali Muchson.

Sementara untaian puisi dibacakan, diiringi permainan biola Arul Lamadau membawakan lagu Gugur Bunga itu menjadi pembuka yang emosional, sekaligus mengantarkan penonton memasuki kisah kepahlawanan Soegiarto dalam Pertempuran Surabaya 1945.

Adegan pembuka menampilkan suasana Surabaya pada 9 November 1945 ketika pihak Inggris, Robert Mansergh, mengeluarkan ultimatum dengan menyebar pamflet yang memerintahkan rakyat dan pejuang Indonesia menyerahkan senjata serta menyerah kepada Sekutu.

Para pemeran yang berperan sebagai rakyat Surabaya memperlihatkan kemarahan dan penolakan terhadap isi pamflet tersebut. Ekspresi wajah yang tegang, gerak tubuh yang penuh emosi, serta sorak perlawanan yang menggema di lapangan berhasil membangun suasana dramatis.

Tak lama kemudian, rekaman pidato heroik Bung Tomo menggema di area pertunjukan. Seruan yang membakar semangat itu menjadi penghubung menuju adegan berikutnya, yakni pecahnya pertempuran besar pada pagi hari 10 November 1945, mulai pukul 06.00.

Asap buatan, suara ledakan, dan gerakan para pemain yang berlarian di tengah medan tempur menghadirkan gambaran sengitnya perlawanan rakyat Surabaya menghadapi serangan Inggris dari darat, laut, dan udara.

Melalui narasi yang disampaikan, penonton diajak memahami bahwa Inggris saat itu meyakini Surabaya dapat ditaklukkan hanya dalam beberapa hari. Namun kenyataannya, perlawanan rakyat berlangsung jauh lebih sengit dari perkiraan.

Para pemeran yang memainkan pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menampilkan semangat juang yang membara. Seruan untuk bertahan dan melawan terus terdengar meski posisi pertahanan semakin terdesak. Adegan mundurnya para pejuang dari pusat kota menggambarkan beratnya perjuangan yang harus mereka hadapi.

Puncak pertunjukan hadir ketika sosok Soegiarto diperkenalkan kepada penonton. Melalui tayangan visual dan narasi, dikisahkan bahwa Soegiarto merupakan pemuda asal Ngaglik yang dikenal sebagai pemain Persebaya pada era 1930-an.

Di masa pendudukan Jepang, ia masih aktif bermain sepak bola. Namun ketika kemerdekaan Indonesia terancam, ia memilih meninggalkan lapangan hijau dan mengangkat senjata untuk mempertahankan tanah air.

Dalam salah satu adegan yang menyentuh, pemeran Soegiarto dinarasika menggantungkan sepatu sepak bolanya sebelum mengambil senapan dan bergabung dengan Pasukan Pertahanan Pemuda Kantor Kota.

Simbol sederhana tersebut menjadi gambaran kuat tentang pilihan yang harus diambil banyak pemuda Indonesia pada masa revolusi: meninggalkan cita-cita pribadi demi kepentingan bangsa dan negara.

Penonton tampak larut ketika adegan pertempuran di sektor Surabaya Timur. Suara tembakan bersahut-sahutan, sementara para pemain yang memerankan pejuang republik berusaha mempertahankan posisi di kawasan Kapasan hingga Tambaksari. Di tengah kepungan pasukan Inggris, Soegiarto dan rekan-rekannya terus bertahan meski peluang kemenangan semakin kecil.

Adegan berikutnya menjadi salah satu bagian paling emosional dalam pertunjukan. Soegiarto bersama sejumlah anggota Pasukan Pemuda Kantor Kota digambarkan gugur di medan pertempuran.

Musik yang melankolis mengiringi para pemain yang satu per satu rebah di atas rerumputan. Suasana yang semula riuh berubah menjadi hening. Beberapa penonton terlihat menundukkan kepala, mengikuti alur kisah yang menggambarkan pengorbanan para pejuang muda.

Narator kemudian menjelaskan bahwa jasad Soegiarto dimakamkan bersama para pejuang lainnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Surabaya. Penjelasan tersebut memberikan konteks sejarah yang memperkuat makna pengorbanan yang ditampilkan dalam pertunjukan.

Pada bagian penutup, drama menggambarkan jatuhnya Surabaya ke tangan Inggris pada akhir 1945. Narasi menegaskan bahwa perlawanan rakyat Indonesia terus berlanjut di berbagai daerah, dari pedesaan, pegunungan, hingga hutan-hutan, sampai akhirnya kemerdekaan Indonesia memperoleh pengakuan penuh oleh Belanda pada tahun 1949.

Lagu Bagimu Negeri mengalun mengiringi adegan para pejuang yang bangkit kembali sebagai simbol semangat perjuangan yang tak pernah padam. Seluruh pemain kemudian berkumpul di tengan lapangan, memberikan penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih. Para pengunjung berdiri dengan khidmat, sementara bendera Merah Putih berkibar perlahan diterpa angin pagi.

Lebih dari sekadar tontonan sejarah, drama teatrikal ini menjadi ruang refleksi bagi generasi masa kini. Kisah Soegiarto mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tak hanya diperjuangkan oleh tokoh-tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku sejarah, namun juga oleh para pemuda biasa yang rela mengorbankan mimpi, kenyamanan, bahkan nyawanya demi masa depan bangsa.

Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia, menjelaskan bahwa drama teatrikal “Pertempuran Surabaya 1945: Kepahlawanan Soegiarto” digelar sebagai bagian dari upaya menyambut Hari Ulang Tahun Persebaya Surabaya ke-99 yang akan diperingati pada 18 Juni 2026.

Menurutnya, peringatan ulang tahun Persebaya tidak hanya dapat dimaknai melalui berbagai perayaan dan atribut yang menghiasi kota, tetapi juga dengan mengenang sosok-sosok yang menjadi bagian dari sejarah klub sekaligus sejarah perjuangan bangsa.

Jika para pendukung Persebaya, baik Bonek maupun Bonita, menyambut hari jadi klub dengan memasang atribut di berbagai sudut kota atau menyampaikan ucapan melalui videotron, maka Roode Brug Soerabaia memilih membangunkan kembali memori kolektif masyarakat tentang Soegiarto, imbuhnya.

“Tidak banyak yang mengetahui bahwa ia bukan hanya pemain Persebaya era 1930 an, tetapi juga pejuang yang gugur dalam Pertempuran Surabaya 1945,” pungkas dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tersebut.

Di bawah bayang-bayang Monumen Tugu Pahlawan yang menjulang tinggi, kisah Soegiarto pagi itu kembali menemukan ruangnya di tengah ingatan publik. Ia tak sekadar pemain sepak bola yang gugur di medan perang, melainkan simbol keberanian generasi muda yang rela meninggalkan impian pribadinya demi mempertahankan kemerdekaan.

Dari Lapangan Tugu Pahlawan Surabaya, sejarah kembali berbicara, mengingatkan bahwa kebebasan yang dinikmati hari ini lahir dari pengorbanan yang tak ternilai harganya. Di setiap kibaran Merah Putih, tersimpan jejak keberanian mereka yang memilih berkorban agar generasi sesudahnya dapat hidup dalam alam kemerdekaan. (Ali Muchson)

Featured image by Jibril Marza

Biarkan Foto Bicara
Kepahlawanan Soegiarto, Persebaya Punya Cerita

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *