Ada yang berubah di sejumlah wajah ruas jalan Kota Surabaya ketika September mulai menyapa. Di antara hiruk-pikuk kendaraan, deru mesin, dan aktivitas warga yang seolah tak pernah berhenti, warna-warni bunga mulai mencuri perhatian.
Pemandangan pohon-pohon Tabebuya yang berjajar di tengah sepanjang Jalan Dr, Ir. Soekarno (MERR) Gunung Anyar yang saya nikmati sambil jalan kaki pagi tadi misalnya, memang menjadi pembeda suasana, Jumat (18/9/2026). Warna pink, putih, kuning, merah, hingga ungu, hadir seperti sapuan warna di tengah wajah kota.
Surabaya seakan memiliki musimnya sendiri. Bukan musim semi seperti di negeri empat musim, namun musim ketika Tabebuya bermekaran dan menghadirkan suasana yang mengingatkan orang pada bunga sakura di Jepang. Tak heran jika setiap kali musim berbunga tiba, wajah jalanan itu ramai diabadikan warga. Foto dan video Tabebuya pun kerap berseliweran di media sosial.
Keindahan tersebut bukan semata-mata kebetulan. Kehadiran ribuan pohon Tabebuya merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang kota yang lebih hijau, rindang, asri dan nyaman. Pohon-pohon itu tumbuh di berbagai ruas jalan protokol dan sudut kota, berdampingan dengan pedestrian, taman, serta ruang publik lainnya.
Tabebuya dikenal sebagai tanaman yang berasal dari Brasil. Dalam perawatannya, tanaman ini relatif tak membutuhkan perlakuan yang rumit. Penyiraman dan pemupukan dilakukan secara rutin agar pertumbuhannya tetap terjaga. Menariknya, perawatan pohon di lingkungan perkotaan juga dapat berjalan beriringan dengan upaya pengelolaan lingkungan.
Pupuk organik, misalnya, dapat dihasilkan melalui proses pengomposan sampah. Hasil perantingan pohon yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos. Dari sini terlihat sebuah siklus sederhana: bagian pohon yang dipangkas tak selalu berakhir sebagai sampah, namun dapat kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi tanaman.
Di luar fungsi estetikanya, keberadaan pepohonan di kawasan perkotaan juga memiliki arti penting bagi kualitas lingkungan. Vegetasi kota membantu menyediakan keteduhan, menangkap debu dan partikulat tertentu, serta berkontribusi terhadap perbaikan kualitas udara.

Karena itu, menanam pohon di tengah kota tak hanya perkara mempercantik pemandangan, melainkan juga bagian dari ikhtiar menciptakan lingkungan yang lebih bersih, dan nyaman bagi manusia. Penanaman Tabebuya oleh Pemerintah Kota Surabaya telah berlangsung sejak sekitar 2010 demi memperkaya lanskap hijau kota.
Tabebuya kemudian memperoleh julukan sebagai āsakura tropisā. Ketika bunganya bermekaran, daya tariknya memang perlu diabaikan. Koridor jalan yang sehari-hari dipenuhi kendaraan seketika memperoleh wajah yang berbeda. Ruang yang semula hanya dilewati berubah menjadi tempat orang memperlambat langkah, mengambil gambar, atau sekadar berhenti sejenak menikmati pemandangan.
Keindahan itu semakin terasa karena Tabebuya tak berbunga sepanjang tahun. Di kota ini, musim berbunga umumnya hadir sekitar September hingga November. Lantaram tak setiap saat berbunga, kemunculannya menjadi sesuatu yang ditunggu. Ada semacam pelajaran sederhana, sesuatu yang hadir secara berkala acap kali terasa istimewa karena manusia belajar menunggunya.
Pohon-pohon Tabebuya kini dapat dijumpai di sejumlah ruas jalan, antara lain Jalan Ahmad Yani, Jalan Dr. Ir. Soekarno (MERR) di kawasan Gunung Anyar, Jalan Mayjend. Sungkono, Jalan Manyar, Jalan Kertajaya, Jalan Ngagel, Jalan Diponegoro, Jalan Gentengkali, serta berbagai sudut Kota Surabaya yang perlu disebutkan semua.
Ketika musim bunga tiba, jalan-jalan tersebut berubah menjadi koridor warna-warni. Warga datang tak hanya untuk memotret, juga menikmati pedestrian dan mencari jeda dari rutinitas. Wisatawan pun memperoleh pengalaman lain dalam melihat Surabaya, tak hanya sebagai kota metropolitan yang sibuk, namun sebagai kota yang memiliki cara sendiri untuk menghadirkan keindahan.
Barangkali, itu salah satu pesona Tabebuya sebenarnya. Ia tak meminta kota berhenti untuk mengaguminya. Ia hanya berbunga ketika waktunya tiba. Namun, kehadirannya cukup untuk mengingatkan manusia agar sesekali memperlambat langkah, menengadah, dan menyadari bahwa di tengah kesibukan selalu ada keindahan yang patut disyukuri.
Sebab, sebagaimana Tabebuya yang tak berbunga setiap hari, umurnya pun tak lebih dari satu minggu, lalu gugur. Maka hidup pun memiliki musimnya. Ada waktu untuk bertumbuh, ada waktu untuk menunggu, dan ada saat ketika segala sesuatu akhirnya mekar pada waktunya, dan gugur pada waktunya pula. (Ali Muchson)
