Mumpung ada undangan dari keponakan yang punya gawe menikahkan anak perempuan keduanya di salah satu hotel di Cepu, Blora, Jawa Tengah, Minggu (5/10/2025), saya sekalian berniat sambang kampung kelahiran di Dusun Kiringan, Desa Mojorejo, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, Jawa Timur.
Rasa rindu pada tanah kelahiran, ditambah jarak yang hanya sekitar 20 kilometer, membuat niat itu sulit ditunda. Tak sekadar nostalgia yang mendorong langkah, juga rasa penasaran lama terhadap sebuah cerita yang kerap dituturkan para tetua di kampung. Cerita tentang proyek raksasa peninggalan Belanda bernama Solo Valleiwerken, yang konon gagal diwujudkan di tepi Bengawan Solo.
Keingintahuan itu akhirnya benar-benar saya wujudkan. Bersama Adip, salah satu keponakan, kami berangkat menuju Desa Ngluwak, Kecamatan Ngraho, Selasa (7/10/2025) sore. Di sanalah, menurut cerita orang-orang tua, dulu pernah direncanakan pembangunan hulu Solo Valleiwerken.
Yakni, proyek besar yang tak pernah selesai, bahkan meninggalkan berbagai kisah misteri di sekitar lokasinya. Padahal, jaraknya dari Dusun Kiringan hanya sekitar empat kilometer. Sore itu, di antara semilir angin sawah dan desir air Bengawan Solo yang melambat mengalir, saya mencoba menelusuri kembali jejak masa lalu yang selama ini hanya hidup dalam cerita tutur yang bersifat anonim.


Cerita Tutur dari Tetua
Dalam setiap peristiwa, tempat, atau kejadian masa lalu, masyarakat sering menautkan kisahnya melalui cerita tutur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal itu dapat dimaklumi, sebab pada masa-masa itu sistem pendokumentasian modern belum dikenal secara luas dalam kehidupan masyarakat.
Terlebih lagi jika peristiwa, tempat, atau kejadian masa lalu di wilayah pedesaan yang jauh dari pusat pemerintahan kolonial. Cerita yang lahir dari tutur para tetua ini kemudian berkembang, berlapis makna, dan kerap bercampur antara fakta sejarah dan legenda yang dibumbui keyakinan mistis.
Salah satu contoh menarik adalah cerita tentang kegagalan pembangunan Solo Valleiwerken, proyek besar masa kolonial Belanda untuk mengendalikan aliran Bengawan Solo. Menurut tutur para sesepuh Desa Ngluwak, dan sekitarnya bahwa proyek besar itu gagal karena Belanda tak mampu âmenjebol huluâ Solo Valleiwerken di bibir Bengawan Solo di wilayah itu.


Jejak Gagalnya Proyek
Kisah kegagalan pembangunan Solo Valleiwerken melahirkan dua wajah sejarah yang saling melengkapi: satu yang hidup di ruang tutur masyarakat, dibungkus kabut misteri dan legenda, dan satu lagi yang tercatat rapi dalam arsip kolonial, berbicara dengan bahasa angka dan krisis ekonomi. Keduanya berpadu membentuk jejak naratif tentang bagaimana manusia menafsirkan kegagalan besar di masa lalu, antara kepercayaan dan kenyataan, antara mitos dan data.
Dalam pandangan masyarakat setempat, proyek itu kandas karena âkutukanâ alam dan ketidakberhasilan Belanda menaklukkan Bengawan Solo, sungai tua yang dianggap memiliki ruh penjaga. Namun jika ditelusuri dari dokumen sejarah, penyebabnya jauh lebih rasional. Semula proyek dianggarkan sekitar 19 juta gulden dengan target penyelesaian tujuh hingga delapan tahun.
Akan tetapi, medan yang sulit, rancangan yang terus berubah, serta lemahnya kendali teknis membuat biaya membengkak hingga 38 juta gulden. Di tengah krisis ekonomi pasca-Perang Dunia I dan anjloknya harga komoditas ekspor, proyek ambisius itu pun ditinggalkan tanpa sempat menampakkan hasil.
Kini, di lapangan hanya tersisa fragmen-fagmen masa lalu: sisa gundukan tanah yang konon bekas fondasi bendung, jejak rel Decauville yang telah hilang ditelan sawah, dan satu makam tua di dekat pusara Mbah Nanggul yang diyakini warga sebagai kuburan insinyur Belanda. Di situlah mitos dan fakta berkelindan, menghadirkan pelajaran tentang bagaimana sebuah proyek besar bisa menjadi cerita kecil yang hidup abadi di ingatan rakyat.

Tanda centang merah letak hulu Solo Valleiwerken, di situ letak Makam Mbah Nanggul dan satu Makam Belanda
Latar Historis dan Awal Perencanaan
Menurut arsip yang dikutip dari Raymond Valiant (2014) dalam tulisannya Solo Valleiwerken: Mega Proyek Zaman Hindia Belanda, perhatian pemerintah kolonial terhadap pengelolaan Bengawan Solo sudah muncul sejak pertengahan abad ke-19.
Tahun 1852, Pemerintah Hindia Belanda mulai mengkaji potensi lembah sungai ini sebagai kawasan pertanian produktif dan jalur transportasi air yang strategis. Sebagai langkah awal, seorang insinyur bernama A.A.V. Lederboer ditugaskan untuk menyusun rencana pengembangan kawasan tersebut.
Lederboer mengusulkan pembangunan bendungan di Kali Pacal, salah satu anak sungai Bengawan Solo, dengan fungsi menampung air untuk sistem irigasi seluas 70.000 bouw (sekitar 49.000 hektare). Namun, rencana itu kemudian direvisi oleh teknokrat dari Burgerlijke Openbare Werken (BOW), J. Walter, pada tahun 1870.
Walter menilai pengambilan air dari anak sungai berisiko tinggi pada musim kemarau, sehingga ia mengusulkan agar sumber air diambil langsung dari Bengawan Solo yang memiliki debit lebih stabil sepanjang tahun.
Sebagaimana dijelaskan oleh Mudji Hartono dalam kajiannya Realisasi Politik Etis di Bojonegoro pada Awal Abad XX (2014), lahirnya proyek Solo Valleiwerken tak lepas dari semangat politik etis atau politik balas budi (Ethische Politiek) yang disampaikan Ratu Wilhelmina dalam pidato pembukaan parlemen Belanda.
Pemerintah kolonial, yang kala itu merasa memiliki âutang moralâ kepada rakyat di negeri jajahan, berusaha membuktikan niat memperbaiki kesejahteraan ekonomi masyarakat pribumi. Solo Valleiwerken pun menjadi simbol dari semangat baru itu, upaya ambisius untuk menata air, pertanian, dan kehidupan rakyat di sepanjang Bengawan Solo.

Rencana Teknis oleh Insinyur J.L. Pierson
Menindaklanjuti berbagai kajian dan revisi sebelumnya, pada tahun 1881 Pemerintah Hindia Belanda menugaskan J.L. Pierson, insinyur muda lulusan Politeknik Delft, untuk menyusun rancangan rinci proyek pengairan besar yang kemudian dikenal dengan nama Solo Valleiwerken, atau Pekerjaan Lembah Bengawan Solo.
Pierson bukan sekadar teknokrat yang lihai menggambar peta dan menghitung volume air. Ia adalah seorang idealis yang percaya bahwa peradaban manusia ditentukan oleh kemampuannya menata air.
Bengawan Solo, sungai tua yang menghidupi ribuan jiwa dari hulu hingga muara, dianggapnya sebagai kunci bagi kemajuan ekonomi Jawa Timur. Maka, ia merancang proyek raksasa yang kala itu disebut-sebut sebagai sistem pengairan paling ambisius di Asia Tenggara.
Rancangan Pierson Terdiri atas Tiga Komponen Utama.
Pertama, perbaikan muara Bengawan Solo yang semula bercabang dua di kawasan Sembayat, Gresik. Ia merencanakan pembangunan saluran pengendali banjir (floodway) di Pelangwot yang mengarah ke Laut Jawa dekat Sedayulawas. Muara lama di Tanjungkepala hendak ditutup, sementara Kali Miring akan dikendalikan melalui bendung gerak di Sembayat.
Kedua, pembangunan bendung utama di Desa Ngluwak. Dari bendung inilah air Bengawan Solo akan dinaikkan hingga delapan meter, kemudian dialirkan melalui saluran primer sepanjang 165 kilometer dengan lebar dasar sekitar 30 meter menuju ke arah timur. Saluran besar ini dirancang multifungsi, bukan hanya untuk irigasi 223.000 bouw (±158.000 hektare) lahan pertanian, tetapi juga sebagai jalur transportasi air bagi perahu kecil.
Ketiga, pembangunan jaringan saluran sekunder sepanjang ±900 kilometer, lengkap dengan jembatan, sifon, serta bangunan pembagi air yang menjangkau wilayah dari Ngluwak hingga Gresik. Dengan sistem ini, Pierson membayangkan sawah-sawah yang hijau sepanjang tahun dan hasil panen dua kali setahun, tanpa lagi dihantui banjir musiman atau kekeringan panjang.


Dukungan Politik dan Pembiayaan
Namun, di balik semangat teknokratis Pierson, proyek ini menuntut dukungan politik dan biaya yang luar biasa besar. Dalam laporan Residen Surabaya, C.H.A. van der Wijk, tertanggal 29 Oktober 1887, tergambar penderitaan penduduk Lamongan dan Gresik akibat banjir tahunan. Ia menulis bahwa warga terpaksa hidup berbulan-bulan di atas rakit, bahkan ada yang melahirkan dan meninggal di sana karena air tak kunjung surut.
Surat ini menggugah Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat Hindia Belanda) untuk menyetujui pendanaan proyek besar tersebut. Pemerintah pun mengalokasikan 19 juta gulden, angka yang pada masanya setara dengan pembangunan beberapa kota kecil di Jawa. Tahun 1892, Pierson mulai mewujudkan rancangannya: pembebasan lahan, penggalian saluran utama, hingga pengangkutan material.
Batu kapur sebagai bahan konstruksi diambil dari pegunungan perbatasan TubanâBojonegoro, diangkut menggunakan kereta Decauville berbahan bakar kayu jati, jenis kayu yang kala itu berlimpah di hutan-hutan sekitar. Suara mesin dan derap roda besi menjadi pemandangan baru di desa-desa, menandai datangnya âzaman proyekâ yang mengubah wajah pedesaan menjadi laboratorium kolonial.

Hambatan Teknis dan Penghentian Proyek
Namun, seperti banyak proyek besar lain pada masa kolonial, idealisme di atas kertas sering kali berhadapan dengan realitas lapangan yang keras. Kondisi tanah di lembah Bengawan Solo ternyata jauh lebih kompleks dari perhitungan awal. Aliran sungai yang labil, endapan lumpur yang cepat berubah, serta curah hujan tak menentu membuat pekerjaan tak kunjung selesai.
Hingga 1897, dana yang terserap sudah mencapai 15 juta gulden, tetapi bendung utama dan saluran irigasi belum juga rampung. Dalam laporan audit internal Burgerlijke Openbare Werken (BOW), disebutkan adanya pembengkakan biaya, lemahnya pengawasan proyek, serta kesulitan teknis yang tak tertangani.
Akhirnya, pada 1898, Direktur Pekerjaan Umum yang baru, de Meyier, merekomendasikan penghentian proyek. Setelah perdebatan panjang di Volksraad, Menteri Jajahan Belanda, J. Cremer, secara resmi mengakhiri pembangunan Solo Valleiwerken. Ketika dihentikan, proyek itu telah meninggalkan lahan bebas sekitar 120.000 hektare di Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Gresik, sebagian besar tanpa fungsi.
Fasilitas pendukung seperti bengkel, rel kereta, dan alat berat dibongkar atau dipindahtugaskan ke proyek-proyek lain di Demak, Pemali, serta pabrik-pabrik gula di pesisir utara Jawa. Pada 1930, ketika krisis ekonomi dunia melanda, wacana melanjutkan proyek benar-benar ditutup. Solo Valleiwerken pun resmi menjadi catatan sejarah tentang mimpi besar yang kandas di tengah jalan.

Reaktualisasi Pascakemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, gagasan besar Pierson tidak sepenuhnya hilang. Pada 1960-an, pemerintah Indonesia mulai meninjau kembali konsep pengendalian banjir Bengawan Solo. Sejumlah studi menunjukkan bahwa rancangan Solo Valleiwerken sesungguhnya sudah sangat visioner, menggabungkan sistem pengendalian banjir, irigasi, dan pengelolaan sumber daya air lintas wilayah.
Sebagian rencana itu bahkan baru bisa diwujudkan beberapa dekade kemudian. Muara Bengawan Solo kini hanya satu di Ujungpangkah, sedangkan Kali Miring telah ditutup. Saluran pengendali Pelangwot, yang dulu hanya menjadi cita-cita di atas peta Pierson.
Rencana tersebut akhirnya baru berhasil diselesaikan pada 2001. Pembangunan Bendung Gerak Babat dan Bendung Gerak Sembayat juga menjadi bukti bahwa warisan gagasan Pierson terus hidup dalam bentuk modern yang lebih adaptif terhadap zaman.
Refleksi atas Gagasan Pierson
Kini, ketika jejak proyek itu tinggal serpihan sejarah di tepian Bengawan Solo, kita dapat melihatnya bukan semata sebagai âkegagalanâ, melainkan juga sebagai cermin dari semangat zaman. Pierson, dengan segala keterbatasannya, telah menghadirkan visi teknik pengairan yang jauh melampaui era kolonialnya. Ia memahami bahwa air adalah urat nadi kehidupan, sesuatu yang menentukan nasib manusia, pertanian, bahkan peradaban.
Namun, sebagaimana ditulis Aw. Syaiful Huda, peneliti Poverty Resource Center Initiative (PRCi), dalam artikelnya: âWah, jika ini bisa diwujudkan, Bojonegoro bagaikan Kota Giethoorn dan Amsterdam (Belanda), atau Kota Stockholm (Swedia), atau seperti kanal Rideau di Ottawa (Kanada). Solo Valley pun bisa jadi magnet pemicu pertumbuhan ekonomi daerah. Namun disayangkan sekali, lagi-lagi ibarat kata; ia layu sebelum berkembang.â
Kalimat itu menutup kisah ini dengan ironi lembut: bahwa setiap kegagalan besar selalu meninggalkan warisan pemikiran, bukan hanya tentang teknis pembangunan, tetapi tentang kesadaran sejarah. Solo Valleiwerken mengajarkan bahwa gagasan besar, betapa pun ambisiusnya, tetap memerlukan pijakan yang kuat pada realitas sosial, ekonomi, dan kemampuan manusia untuk memelihara keseimbangannya dengan alam.
âBarangkali, Bengawan Solo tak butuh dibendung, ia hanya ingin didengar, sebagaimana sejarah yang selalu berbisik agar manusia tak lupa pada air yang pernah menghidupi dan menenggelamkan peradaban.â


Referensi
- Espos.id. (2023, 19 Oktober). Solo Valley Werken, Proyek Gagal Belanda di Lembah Sungai Bengawan Solo. Diakses pada 8 Oktober 2025 dari https://regional.espos.id/solo-valley-werken-proyek-gagal-belanda-di-lembah-sungai-bengawan-solo-1441380
- Ruritan, R. V. (2010). Solo Valleiwerken: Mega Proyek Zaman Hindia Belanda. Dipublikasikan ulang pada 26 Februari 2014 di Raymondvaliant.blogspot.com. Diakses pada 8 Oktober 2025 dari https://raymondvaliant.blogspot.com/2014/02/solo-valleiwerken-mega-proyek-zaman.html?m=1
- Solovallei.com. (2024, 17 Juli). Sejarah tentang Solo Valleiwerken. Diakses pada 8 Oktober 2025 dari https://solovallei.com/sejarah-tentang-solo-vallei/


