Perwakilan Roode Brug Soerabaia Sempatkan Kulik Stasiun Radio Malabar
Sebenarnya penat perjalanan malam selama 10 jam 30 menit dari Surabaya – Bandung dengan KA Harina belum juga lenyap. Maklum, meski bisa terlelap, tetap tak senyaman tidur di kasur rumah. Tiba di Stasiun Bandung pukul 04.15, sementara waktu check-in hotel masih jauh. Oleh panitia Parade Juang Bandung Lautan Api, rombongan Roode Brug Soerabaia dipersilakan transit dulu di Gedung DPC LVRI Kota Bandung.
Hari itu masih panjang. Gladi drama teatrikal Darah dan Doa – Hijrah dan Long March Pasukan Siliwangi, bagian dari peringatan Hari Veteran Nasional 2025 yang digelar Pemkot Bandung bersama DPC LVRI Bandung, baru pukul 16.00. Mengisi waktu luang, Bu Sylvi dan Pak Yoshi, suaminya, mengajak blusukan mengulik Stasiun Radio Malabar di kawasan Gunung Puntang. Berangkatlah kami berempat semobil: Bu Sylvi, Pak Yoshi, Ekky, dan saya, Sabtu (23/8/2025).
Menyusuri Gunung Puntang
Lokasi Gunung Puntang berada sekitar ±40 km dari Titik Nol Kota Bandung di Jalan Asia Afrika, tepat di depan Kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat. Gunung ini termasuk kawasan Pasirmulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, bagian dari rangkaian Pegunungan Malabar, dan kini dikelola Perhutani sebagai kawasan wisata alam.
Udara sejuk, panorama hijau, serta bentangan perbukitan menyambut siapa pun yang datang. Di kawasan Stasiun Radio Malabar, yang kini tinggal puing-puing peninggalan kolonial Belanda, suasana hening seolah menyimpan jejak sejarah besar. Dari Bandung, perjalanan ke Puntang memakan waktu sekitar dua jam, tentu jika lalu lintas normal, sebab selepas Soreang jalanan mulai menyempit.
Namun, di balik megahnya bangunan Stasiun Radio Malabar, dan indahnya panorama alam Gunung Puntang menyimpan kisah yang menyesakkan hati, yakni elegi kerinduan seorang ibu yang sudah renta, yang terabadikan dalam lagu legendaris Hallo Bandoeng, karya Willem Frederik Christiaan Dieben.
Kisah Pilu di Balik Lagu “Hallo Bandoeng”
Dari Stasiun Radio Malabar inilah, pada 1927, sambungan suara langsung kali pertama berhasil menghubungkan antara Bandung dengan Den Haag. Jarak sekitar 12.000 km seakan sirna ketika suara antarbenua bisa terdengar dari dua arah berjauhan. Kalimat ikonik itu pun tercipta:
“Hallo Bandoeng! Hier Den Haag!”
“Halo Bandung! Ini Den Haag!”
Kalimat inilah yang kemudian mengilhami Willem Frederik Christiaan Dieben, musisi yang lebih dikenal dengan nama Willy Derby, menciptakan lagu Hallo Bandoeng pada tahun 1929. Namun, lagu ini bukanlah mars patriotik Halo, Halo Bandung karya Ismail Marzuki. Lagu Hallo Bandoeng justru sarat melodi melankolis, berisi kerinduan, suka cita, sekaligus kisah tragis. Kematian. Berikut cuplikan liriknya:
‘t Kleine moedertje stond bevend
Op het telegraafkantoor
Vriendelijk sprak de ambtenaar: “Juffrouw
Aanstonds geeft Bandoeng gehoor”
Trillend op haar stramme benen
Greep zij naar de microfoon
En toen hoorde zij, o wonder
Zacht de stem van haren zoon.
Ibu bertubuh kecil itu gemetar
Di kantor telegraf
Dengan ramah petugas operator berkata: “Nyonya,
sebentar lagi Bandoeng akan menjawab.”
Gemetar di atas kakinya yang kaku
Dia meraih mikrofon
Dan kemudian dia mendengar, oh keajaiban
Suara lembut putranya.
Wanita tua itu menabung berbulan-bulan hanya untuk berbicara dengan putranya di Hindia Belanda. Begitu suaranya terdengar, ia tak kuasa menahan tangis bahagia. Putranya berjanji, “Dalam empat tahun lagi aku akan kembali, Bu.” Mereka berbincang ringan soal rumah tangga, dan sang anak di Indonesia. Si ibu bertanya, “Sayang, bagaimana kabar istrimu yang berkulit sawo matang?”
Putranya menjawab bahwa ia dan istrinya selalu berbicara tentang sang ibu. Anak-anak mereka bahkan berdoa setiap malam untuk nenek yang belum pernah ditemui. Mendengar itu, tangis si ibu makin pecah.
“Wacht eens, moeder,” zegt hij lachend
“‘k Bracht mijn jongste zoontje mee”
Even later hoort ze duidelijk
“Opoelief, tabe, tabe”
“Tunggu sebentar, Bu,” kata putranya sambil tertawa
“Aku akan membawa putra bungsuku.”
Beberapa saat kemudian sang ibu mendengar jelas,
“Nenek tersayang, tabe, tabe.”
Kata ‘tabe’ atau kependekan ‘tabik’ adalah salam dalam bahasa Minangkabau. Namun, kebahagiaan itu terlalu berat ditanggung sang ibu. Emosinya memuncak, tubuhnya limbung. Dengan berbisik lirih ia berucap, “Ya Tuhan, terima kasih aku bisa mendengarnya.” Lalu ia jatuh tak sadarkan diri.
Putranya berteriak, “Ibu…, Ibu…!” Namun, tak ada jawaban. Hanya tangis tersisa.
“Hallo, hallo” klinkt over verre zee
Zij is niet meer
En het kindje roept: “Tabe …”
“Halo, halo,” terdengar di laut yang jauh
Namun sang ibu sudah tiada
Saat cucunya berseru: “Tabe …”
Lagu ini menjadi hit besar di Belanda. Surat kabar De Indische Courant (15 Maret 1931) menulis: “Lagu itu populer, sentimental, kata demi kata. Justru karena kesederhanaannya, ia selalu menyenangkan untuk didengar.” Popularitasnya berlanjut ketika Wieteke Van Dort menyanyikannya ulang pada 1979, menambahkan kesyahduan baru pada elegi ini.
Sejarah Stasiun Radio Malabar
Kembali ke Gunung Puntang, dulu pernah berdiri sebuah bangunan besar yang merupakan gedung pemancar radio VLF (very low frequency). Stasiun Radio Malabar. Pemancar ini digunakan pemerintah Hindia Belanda untuk berkomunikasi ke Belanda. Di Belanda, stasiun radio yang menerimanya berada di sebuah pedesaan di kawasan Sambeek, Belanda, yaitu Kootwijk. Maka pemancarnya disebut juga Radio Kootwijk.
Sejarah mencatat, pemancar Stasiun Radio Malabar didirikan tahun 1917, diresmikan tahun 1923. Pemancar ini memiliki ukuran luar biasa besar bila dibandingkan dengan pemancar radio se zamannya. Panjang antena 2 Km, merentang di antara celah Gunung Malabar dan Gunung Haruman, dengan ketinggian rata-rata 350 meter di atas lembah. Daya pancarannya adalah 2400 Kw, ketika menggunakan mesin Arc Poulsen, dan 400 Kw dengan mesin Telefunken.
Untuk memenuhi daya, kebutuhan listriknya dipasok dari sebuah pembangkit listrik yang khusus dibuat untuk itu di Pangalengan, sekarang bernama PLTA Lamajan. Jarak komunikasi yang ditempuh ke Belanda adalah sejauh 12000 Km; sebuah jarak yang bahkan lebih jauh dari komunikasi yang pernah dilakukan oleh pelopor komunikasi telegrafi dalam sejarah dunia, Guglielmo Marconi.
Untuk itulah cdvandt.org menyebut Radio Malabar sebagai World’s Most Powerful Arc Transmitter Ever (Pemancar Ark Terbesar Sedunia yang Pernah Ada). Pendiri Radio Malabar Ini adalah Dr. Cornelius Johannes de Groot (1883-1927) yang sekaligus menjadi direktur pertama stasiun pemancar ini. Diresmikan pada 5 Mei 1923 oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock, Stasiun Radio Malabar menjadi tonggak komunikasi global pada masanya.
Semasa kepemimpinannya, de Groot melakukan banyak eksperimen bagi kelancaran operasi Stasiun Radio Malabar; sesuatu yang ia sendiri sejak kecil gemar melakukannya dalam bidang amatir radio. Bukan sekedar hobi, ia pun menempuh jalur akademis. Gelar doktornya diperoleh setelah mempertahankan thesis dengan judul “De Invloed van Het Tropisch Klimaat op de Radioverbinding” (The Influence of the Tropical Climate on the Radio Connection).
Untuk mengenang jasa Dr. Cornelius Johannes de Groot, nama sang pendiri menjadi sebuah nama jalan di Bandung, yaitu Grootweg, sekarang namanya menjadi Jalan Siliwangi. Hancurnya Radio Malabar diawali dengan berita akan masuknya tentara Jepang ke Bandung tahun 1942. Karena khawatir pemancar tersebut akan digunakan untuk kampanye oleh pihak Jepang.
Maka, beberapa pegawai menghancurkan sendiri beberapa peralatan penting, sehingga Stasiun Radio Malabar sama sekali tidak bisa beroperasi. Tahun 1945, beberapa mesin dipindahkan ke stasiun pemancar lain yang ada di Dayeuhkolot. Tahun 1946, Stasiun Radio Malabar dihancurkan total oleh pejuang Indonesia menggunakan dinamit. Peristiwa ini merupakan salah satu yang ada dalam rangkaian sejarah Bandung Lautan Api.
Peristiwa boleh berlalu, meski telah terkubur waktu namun sejarah telah mencatatnya, dan hendaknya tak sampai hilang dari memori kolektif masyarakat. Di tempat kami berpijak ini, pernah berdiri salah satu tonggak dalam linimasa perkembangan komunikasi nirkabel dunia. Kini, yang tersisa hanya puing-puing, saksi bisu sebuah era teknologi canggih masa lalu dan kolonialisme.
Epilog: Jejak yang Tertinggal di Gunung Puntang
Siang itu, ketika langkah kami menapak di antara reruntuhan puing Stasiun Radio Malabar, hening begitu dalam menyusup di benak. Hanya desir angin yang menyapu pepohonan dan sesekali suara burung liar yang terdengar dari kejauhan. Saya memandang reruntuhan dinding bebatuan gunung, dan bata merah rapuh yang tersisa , namun masih menyimpan wibawa masa lalu.
Bu Sylvi berkomentar lirih, “Bayangkan, dari tempat inilah suara bisa menembus samudra, dan menerobos antarbenua!” Lalu, Pak Yoshi menimpali, “Tapi rupanya, teknologi komunikasi sehebat apa pun tetap tak bisa menjangkau peluk cium kerinduan seseorang.” Kami semua terdiam sejenak, seolah ikut merasakan pilu yang tersirat dalam lagu Hallo Bandoeng.
Dalam perjalanan pulang menuju Bandung, rasa penat yang sejak awal belum benar-benar sirna berubah menjadi renungan. Bahwa sejarah bukan hanya soal data dan tanggal, pun melainkan soal rasa: tentang kerinduan, kehilangan, dan harapan yang abadi.
Gunung Puntang tak hanya menawarkan panorama indah nan memesona mata, melainkan juga sebagai cermin bagi siapa saja yang ingin berkontemplasi dengan alam sambil merenung bahwa ada rindu bersemuka untuk berpeluk jabat yang tak sanggup dijembatani oleh teknologi komunikasi secanggih apa pun hingga kini. (Ali Muchson)
Sumber:
- https://www.ayobandung.com/bandung-baheula/pr-792414353/sejarah-lagu-halo-bandung-hallo-bandoeng-elegi-tentang-kerinduan-dan-kematian?page=4 , diakses tanggal 26 Agustus 2025.
- https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Radio_Malabar , diakses tanggal 26 Agustus 2025.
- https://tirto.id/radio-malabar-penghubung-rindu-antara-belanda-negeri-jajahannya-cPeT, diakses tanggal 27 Agustus 2025.
- https://www.willemsmithistorie.nl/index.php/historische-nieuwsflits/300-eerste-radiostation-malabar-1923-2013, diakses tanggal 27 Agustus 2025.
Feaured Image: Tropenmuseum Collectie
Biarkan Foto Bicara
Stasiun Radio Malabar: Antara Panorama Indah dan Kisah Pilu Lagu “Hallo Bandoeng”








































